Sabtu, 26 Desember 2015

Posko Pemenangan IPONG-DJARNO SELAMA EMPAT HARI DIJUBELI MASYARAKAT YANG INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT




Ponorogo – Sungguh fenomenal, sosok Ipong, ternyata sangat diidolakan oleh masyarakat Ponorogo. Selama empat hari menggelar Open House, Posko Pemenangan Ipong-Djarno, tiap harinya, di jubeli oleh ribuan masyarakat Ponorogo, yang ingin memberikan ucapan selamat atau foto bersama Ipong. Rupanya, kemenangan Ipong-Djarno, sebagai Cabup-Cawabup Ponorogo, sudah sangat diharapkan sekali oleh masyarakat, “Orangnya gantheng, pintar, gak sombong, istrinya juga ramah, programnya bagus. Jadi tidak salah, jika masyarakat Ponorogo memilih Pak Ipong, demi perubahan Ponorogo yang lebih baik”, ujar Wito, yang sengaja datang dari Ngrayun demi untuk mengucapkan selamat kepada Ipong.
Hal senada diungkapkan oleh, Dian, warga desa Dayakan, yang sengaja datang berombongan dengan teman-temanya. Selain ingin mengucapkan selamat, Dian ingin foto, dengan Pak Ipong, “Pak Ipong itu orangnya gantheng, gaul, suaranya bagus. Waktu sosialisasi dulu Pak Ipong, nyanyi, pokoknya bupati gaul. Dan tadi kami sempat foto bersama, trimaksih Pak Ipong”, katanya

 Sementara itu menurut bagian protokoler Posko Pemenangan Ipong-Djarno, Mustopa. Atas, kemenanganya ini, Pak Ipong memang ingin berbagi kebahagiaan dengan masyarakat Ponorogo. Siapapun boleh datang ke Posko Pemenangan Ipong-Djarno, baik untuk memberikan ucapan selamat maupun untuk foto bersama, “Dan setiap hari, juga kami sediakan hidangan, dengan menu yang berbeda-beda. Mohon maaf open house, hanya kami gelar selama empat hari. Karena situasinya belum memungkinkan. Bagi masyarakat yang belum sempat silaturahmi, suatu saat pasti akan ada kesempatanya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi, antara Pak Ipong dengan masyarakat Ponorogo”, tukasnya. (Supriyadi)

DPC PDIP Ponorogo Legowo AKAN DUKUNG PEMERINTAHAN IPONG-DJARNO




Ponorogo – Paska Pilkada 9 Desember 2015, dukungan politik ke kubu pasangan Ipong-Djarno, dari berbagai elemen masyarakat, terus mengalir. Dari hasil hitung cepat (quickcont), yang lakukan oleh lembaga survey dan website dari KPU-RI yang memenangkan pasangan Ipong-Djarno, dalam Pilkada Ponorogo, rupanya mulai bisa diterima masyarakat. Bahkan jajaran pengurus DPC PDIP Ponorogo, pada Senin (14/12), dipimpin langsung oleh Ketua DPC PDIP Ponorogo Agus Widodo, dengan kasatria, mendatangi Posko Pemenangan Ipong-Djarno di jalan Sultan Agung, untuk mengucapkan selamat, kepada pasangan Ipong-Djarno, “Setelah kami mengadakan rapat internal dengan jajaran pengurus DPC PDIP Ponorogo. Dan melakukan penghitungan perolehan suara dari formulir C-1, yang kami kumpulkan dari seluruh TPS yang ada di Ponorogo,  melalui para saksi yang ditunjuk oleh DPC PDIP Ponorogo. Maka setelah kami hitung, perolehan suara pasangan nomor 4 Ipong-Djarno, meraup dukungan paling banyak. Oleh sebab itu, pada siang ini, seluruh jajaran pengurus DPC PDIP Ponorogo, mengucapkan selamat kepada Ipong-Djarno”, ujar Agus Widodo, mengawali silaturahminya dengan Ipong.

Lebih lanjut Agus Widodo mengatakan, bahwa dirinya bersama Pak Amin, legowo, dan mengaku menerima kekalahan dalam perhelatan Pilkada Ponorogo kali ini. Pasangan Nomor 2, juga mohon maaf jika selama masa kampanye ada tutur kata ataupun tingkah laku yang kurang berkenan, dan menyinggung perasaan Ipong-djarno. Pun, kedepanya DPC PDIP Ponorogo akan mendukung pemerintahan Ipong-Djarno, dalam mewujudkan dan melaksanakan program kebijakanya, “Meskipun demikian, kami juga akan tetap mengkritisi pemerintahan Ipong-Djarno, manakala ada kebijakan yang tidak memihak kepada masyarakat, atau merugikan masyarakat Ponorogo”, imbuhnya.             

Sementara itu, Ipong yang didampingi istrinya Hj. Sri Wahyuni, menyambut haru, atas ketulusan ucapan selamat, dari jajaran pengurus DPC PDIP Ponorogo. Menurut Ipong, tradisi seperti ini perlu untuk terus di jaga. Pilkada adalah perhelatan rutin lima tahunan, dalam sebuah kompetisi kalah menang adalah hal yang biasa. Jika pilkada telah selesai, maka kita harus kembali bersatu padu untuk membangun Ponorgo, duduk bersama, tanpa harus ada yang merasa di kalahkan. Kami sangat menghargai ketulusan dari rekan-rekan DPC PDIP Ponorogo, yang akan berada dalam satu gerbong untuk mensejahterakan masyarakat Ponorogo. Keberadaan   rekan-rekan pengurus DPC PDIP Ponorogo, untuk lima tahun kedepan sangatlah vital, bagi pembangunan Ponorogo. Karena ini adalah era pemerintahanya Jokowi, sehingga kita harapkan kita bisa bersinergi, pengurus DPC PDIP Ponorogo, bisa ikut menjembatani kepentingan masyarakat Ponorogo, ke Pemerintah Pusat, “Pak Agus, terimakasih atas ucapan dan dukunganya. Saya Ipong-Djarno juga mohon maaf, jika selama masa perhelatan Pilkada ini, ada tutur kata ataupun tingkah laku yang menyinggumg perasaan Pak Amin dan Mas Agus Widodo, hal itu bukanlah sesuatu yang kami sengaja. Meskipun saat ini, saya sedang memakai kaos biru, tapi jam tangan dan akik saya, warnanya juga sudah merah, Mas Agus”, tukas Ipong, disambut aplous jajaran pengurus DPC PDIP Ponorogo, yang ikut silaturahmi. (Supriyadi) 

Drs. Mariyono Wirodigdo, MPd. : IPONG PUNYA DAYA DOBRAK TINGGI UNTUK MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT PONOROGO

Ponorogo – Terpilihnya pasangan Ipong-Djarno, sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo, periode 2015-2020. Membuat harapan masyarakat Ponorogo membuncah, agar kedepanya, pasangan Ipong-Djarno, bisa membawa perubahan dan kesejahteraan bagi masyarakat Ponorogo menjadi lebih baik lagi. Tak kurang, dari pengamatan kacamata Drs. Mariyono Widogdo, MPd, mantan guru Ipong, di SMAN I Ponorogo. Yang dalam Pilkada Ponorogo ini, menjadi salah satu juru kampanye pasangan Ipong-Djarno. Menilai, jika Ipong mempunyai daya dobrak yang tinggi, untuk bisa mensejahterakan masyarakat Ponorogo. Karena, Ipong, orangnya cerdas, progamnya bagus, punya kapabilitas dan kredibilitas yang tinggi di mata masyarakat Ponorogo. pengalaman panjangnya sebagai pengusaha maupun politisi, di harapkan mampu membawa angin perubahan bagi masyarakat  masyarakat Ponorogo. Berikut ini petikan wawancara, antara wartawan Ponorogo Pos Supriyadi, dengan Drs. Mariyono Wirodigdo, MPd, berkaitan dengan terpilihnya Ipong-Djarno, sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo.

Kenapa Pak Mariyono, dalam Pilkada Ponorogo kali ini, mendukung pasangan Ipong-Djarno ?
Pertama, karena garis partai, seusai Saya pensiun sebagai Guru per 1 Juni 2014, Saya memutuskan untuk bergabung dengan Partai Nasdem, sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan DPD Partai Nasdem Ponorogo. Yang dalam Pilkada Ponorogo ini, mengusung pasangan Ipong-Djarno. Yang kedua Ipong, adalah mantan murid Saya di SMAN I Ponorogo. Jadi istilahnya, ‘anak polah bopo kepradah’, bagaimanapun juga Ipong itu sudah saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bagaimanapun saya, harus ikut membantunya agar bisa menjadi Bupati Ponorogo. Bahkan sewaktu Ipong-Djarno, kampanye di 307 desa, selama 27 hari, Saya juga selalu mengikutinya. Alasan kedua,  kenapa Saya menukung Ipong, karena dari sejak awal, Ipong mempunyai visi misi dan program yang baik dan jelas arahnya, untuk memajukan masyarakat Ponorogo. Jadi tidak ada salahnya jika Saya ikut mendukung dan menjadi juru kampanye pasangan Ipong-Djarno.

Harapan Anda, setelah Ipong terpilih sebagai Bupati ?
Harapanya, semoga Ipong, bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat Ponorogo. Bupati Ponorogo, setelah eranya Pak Sumadi, Pak Subarkah dan Pak Markum, hanya datar-datar saja, tidak ada gebrakan yang berarti. Oleh sebab itu kita berharap banyak pada Ipong, orangnya masih muda, cerdas, cara berpikirnya sangat progresiv, sehingga Ipong kita harapkan mempunyai daya dobrak yang tinggi untuk menembus sekat, yang selama ini, membuat pemerintahan Kabupaten Ponorogo, terkesan jalan di tempat. Pengalamanya sebagai politisi dan pengusaha nasional, kita harapkan mampu membawa perubahan signifikan di bidang ekonomi, maupun  di bidang birokrasi. Ponorogo saat ini butuh Bupati yang se level dengan Markum Singodimedjo, yang mempunyai akses luas di pemerintahan pusat.

Pak, apa yang melatar belakangi Anda, setelah pensiun dari Guru, kok  malah terjun ke dunia politik ?
Alasanya, pertama, mungkin karena panggilan jiwa, karena pada saat saya kuliah dulu, saat jaman Orde Baru, saya sudah aktif di berbagai gerakan kemahasiswaan. Kedua, saya ingin memberikan motivasi kepada teman-teman yang telah purna tugas, untuk terus mengabdikan tenaganya demi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Ponorogo. Selain menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan di Nasdem, Saya juga aktif sebagai pengurus paguyuban Bonsai, Keris, Mocopat dan lain-lainya. Tapi dengan terjun ke dunia politik, Saya berharap, kiprah Saya berada di level yang lebih tinggi, sehingga segala tindakan dan pemikiran Saya, untuk ikut mensejehterakan masyarakat Ponorogo, bisa lebih di perhatikan (*)  

Kang Pri : EVERYTHING IS FINALLY, KITA KEMBALI BERSAMA-SAMA MEMBANGUN PONOROGO

Ponorogo – Sementara itu, Ketua Tim Pemenangan Ipong-Djarno, Drs. Supriyanto, dihadapan para Kepala Desa, mengatakan. Bahwa   dalam setiap proses politik, akan selalu membawa ‘hiruk pikuk’ di tengah masyarakat, penyebabnya adanya beda pilihan dan beda pendapat, antar pendukung paslon yang maju dalam Pilkada. Oleh sebab itu hal ini harus segera di selesaikan, agar resistensi ditengah masyarakat tersebut tidak berkepanjangan, “Sekarang ini, ‘Everything Is Finally’, segala sesuatunya telah selesai. Pada malam ini, marilah kita lepaskan perbedaan pendapat, kita samakan persepsi. Perjalanan pembangunan Ponorogo kedepan, membutukan kebersamaan, dari seluruh elemen masyarakat Ponorogo. Silaturahmi yang kita lakukan pada malam hari ini, merupakan pondasi awal yang bagus untuk, memajukan dan mensejahterakan masyarakat Ponorogo”, jelas Kang Pri, sapaan akrab Drs. Supriyanto.       

Lebih lanjut Kang Pri mengatakan, dirinya selaku Ketua Tim Pemenangan Ipong-Djarno, mohon maaf jika selama kampanye. Dirinya dianggap meyerang dan menjelek-jelekan Paslon lainya. Semua itu, semata-mata hanyalah strategi untuk meyakinkan masyarakat, tanpa ada rasa permusuhan dan dendam pribadi. Apa yang disampaikanya dalam kampanye, semuanya masih dalam koridor, seperti yang diatur dalam UU Pemilu, “Jika selama kampanye, saya dianggap menjelek-jelekan paslon lainya, dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon maaf. Semua itu bukanlah suatu tujuan untuk meyerang secara pribadi, melainkan hanya strategi untuk meyakinkan masyarakat agar mau memilih paslon yang saya dukung”, imbuh, anggota DPR RI dari Partai Gerindra ini.

Selain itu dalam sambutanya, kang Pri mengatakan, bahwa dalam Pemilukada Ponorogo kali ini. Kang Pri, mengibaratkan, jika dirinya, sebagai Semar Bodronoyo, dalam cerita pewayanagan. Yang tugasnya, membimbing dan mengantarkan para Ksatria untuk menjadi Raja. “Tugas saya telah selesai, dengan terpilihnya Ipong-Djarno, sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo. Keduanyalah ayang akan memimpin roda pemerintahan Kabupaten Ponorogo. Toh meskipun demikian, jika nanti dalam perjalananya Ipong-Djarno, dalam menerapkan kebijakanya, ada  yang mencederai rasa keadilan masyarakat, Semar Bodronoyo, pasti akan mengingatkanya”, tukasnya. (Supriyadi)     

Ipong : TIDAK ADA POLITIK BALAS DENDAM

Ponorogo – Usai di tetapkan sebagai peraih suara terbanyak (219.949), oleh KPU Ponorogo, pada Rabu (16/12). Cabup-Cawabup nomor 4, Ipong-Djarno, langsung tancap gas, menggelar konsolidasi dengan Kepala Desa se Kabupaten Ponorogo, pada Sabtu-Minggu malam (20-21/12), di Posko Pemenanganya Jalan Sultan Agung. Pun, Ipong, tak ambil pusing, dengan gugatan yang dilayangkan oleh paslon nomor satu, Sugiri Sancoko-Sukirno ke Mahkamah Konstitusi (MK), yang merasa tidak puas dengan hasil Pilkada Ponorogo 9 Desember 2015, lalu. Bagi Ipong, konsolidasi dengan Kepala Desa, adalah hal penting, yang harus segera dilakukan, karena Kepala Desa lah, yang nantinya akan menjadi ujung tombak, pelaksana program kebijakan pemerintahan Ipong-Djarno, di tingkat desa, “Perhelatan Pilkada, telah selesai. Beda pilihan, adalah hal yang wajar, karena dalam Pilkada ini, kita memilih figur, yang kita nilai sesuai dengan hati nurani kita. Dan bagi Kepala Desa, yang dalam Pilkada lalu, tidak mendukung dan memilih pasangan nomor 4, Saya dapat memakluminya. Mungkin karena sebelumnya, mereka telah menjalin komunikasi sejak lama dengan paslon lainya, sebelum saya datang ke Ponorogo. ‘Sing uwis, yo uwis’, lupakan perbedaan, mari kita kembali bersama,  untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat Ponorogo. Saya tidak akan membeda bedakan, antara Kepala Desa yang satu dengan Kepala Desa lainya. Dan Saya tidak akan melakukan politik balas dendam”, ujar Ipong, yang mendapat aplaus meriah, dari ratusan Kepala Desa, yang hadir.

Lebih lanjut, Ipong mengatakan, bahwa silaturahmi ini, dimaksudkan untuk adaptasi, menyamakan pandangan, antara dirinya dengan Kepala Desa. Mulai saat ini Kepala Desa, harus sudah mempersiapkan diri, untuk program-program yang akan di gulirkan oleh pemerintahan Ipong-Djarno. Silaturahmi dan dialog semacam ini, kedepanya akan sangat penting, untuk memecahkan permasalahan di tingkat desa. Oleh sebab itu, dirinya akan menjadwalkan kegiatan dialog ini  secara periodik, “Entah itu melalui tilik desa, ngopi bareng, atau nanti Kepala Desa kita undang ke Pendopo. Yang penting harus ada komunikasi yang intens dengan Kepala Desa, agar ada persamaan persepsi dalam membangun Desa”, imbuhnya.


Selain itu, Ipong berjanji, pihaknya akan melibatkan dan menggandeng media masa, untuk pengawasan dan publikasi. Sehingga masing-masing desa akan  terpacu, untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dalam membangun desanya, “Saya juga berinisiatif, akan kembali menghidupkan Lomba Antar Desa. Agar masing-masing desa, termotivasi untuk menampilkan hasil produk-produknya dan pembangunan yang telah dicapainya”, tukasnya (Supriyadi)

dr. Burhanudin : PAN PONOROGO AKAN MENGAWAL PROGRAM DAN KEBIJAKAN IPONG

Ponorogo – Meskipun Ipong-Djarno, belum di tetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ponorogo. Namun Ketua DPD PAN Ponorogo, dr. Burhanudin, optimis, Ipong-Djarno lah nantinya yang akan memimpin Ponorogo, untuk lima tahun kedepan. Oleh sebab itu, DPD PAN Ponorogo, akan all out, mengawal program kebijakan Ipong-Djarno, “Terpilihnya Ipong-Djarno, kita harapkan akan menjadikan masyarakat Ponorogo lebih sejahtera. Visi misinya Ipong-Djarno, bisa terlaksana dengan baik, sehingga masyarakat Ponorogo akan terlayani dengan lebih maksimal. Dan DPD PAN Ponorogo akan mensuport Ipong-Djarno, agar program dan kebijakan bisa berjalan dengan baik untuk lima tahun kedepan”, jelasnya. (Supriyadi)

Joko MR : PENGUSAHA PONOROGO BERHARAP BANYAK PADA IPONG




Ponorogo – Meskipun belum ada penetapan siapa Bupati Ponorogo terpilih, dari KPU Ponorogo. Namun kalangan pengusaha Ponorogo, yang diwakili oleh Owner Putra Sala Group (PSG), Joko MR, jika Bupatinya nanti Ipong, ada terobosan dan regulasi baru, yang membuat dunia usaha di Ponorogo, semakin terbuka peluangnya, “Pak Ipong, seorang pengusaha, maka mindsetnya akan sama. Seorang pengusaha pemikiranya realistis jauh kedepan, bukan sesaat ini saja. Tidak hanya 5 sampai 10 tahun kedepan. Bahkan mungkin 20 sampai 30 tahun kedepan, sudah terpikirkan sekarang”, jelasnya, ditengah-tengah membludaknya masyarakat, yang ingin memberikan ucapan selamat kepada Ipong, pada Minggu (13/12), di Posko Pemenangan Ipong-Djarno.

Lebih lanjut Joko MR, mengatakan harapan dan dukungan pengusaha Ponorogo terhadap Pak Ipong, sangat besar. Oleh sebab itu program kebijakan Pak Ipong, yang tujuanya untuk kemajuan dunia usaha di Ponorogo, perlu kita kawal, “Pak Ipong, wawasanya jelas lebih maju kedepan, dibandingkan kita-kita yang terkadang wawasanya masih berkutat ditingkat lokal. Mudah-mudahan Pak Ipong bisa memajukan dunia usaha di Ponorogo”, tukasnya (Supriyadi - Ponorogo Pos 17 Desember 2015)

Ipong Muchlissoni : INI KEMENANGAN MASYARAKAT PONOROGO



Ponorogo – Meskipun sempat direndahkan oleh polling, media masa harian ternama, dalam perolehan dukungan suara. Pasangan Ipong-Djarno, akhirnya menuai kemenangan pada Pilkada Ponorogo, yang di gelar pada 9 Desember 2015. Dari asil ‘quickcount’ (hitung cepat) dan ‘realcount’ (hitung nyata), yang dilakukukan oleh Tim Pemenangan Ipong-Djarno, di Poskonya, Jalan Sultan Agung, pada Rabu siang (9/12) jam 4 sore. Dari perolehan sementara quickcount, Ipong-Djarno, memperoleh 39, 59 %, Sugiri-Sukirno 35,39, %, Amin-Agus Widodo 23,25 %, Misranto-Isnen 1,73 %, totaldari suara masuk sebesar 80%. Atas kemenanganya ini, Ipong dihadapan awak media masa dan elektronik, mengatakan, “Kita bersyukur, dari hasil penghitungan sementara quickcount, kita unggul sekitar 5 % atas pasanagn nomor satu. Kemenangan ini adalah kemenangan masyarakat Ponorogo”, tegasnya

Bukan itu saja, kubu Ipong-Djarno, untuk memastikan kemenanganya, selain menggelar quickcount, juga menggelar realcount, yakni pengumpulan perolehan suara dari lembar C-1, yang di kumpulkan oleh para saksi Ipong-Djarno, di TPS-TPS se kabupaten Ponorogo. Menurut Ipong, hasil quickcount dan realcount, hasil akhirnya tidak akan jauh berbeda, selisihnya hanya sekitar 0,0 %, “Oleh sebab itu, kita sudah mengintruksikan untuk mengamankan lembar C-1 dari para saksi, hasil perolehan suara TPS-TPS se kabupaten Ponorogo, agar kita tidak di curangi. Kita juga sudah menugaska Tim, untuk terus mengawal perolehan hasil suara pasangan Ipong-Djarno, Penghitungan quickcount akan selasai pada sekitar jam 6 sore, tapi untuk realcount nya, kita perkirakan akan selesai pada jam 2 malam”, imbuhnya.


Ipong juga menceritakan, untuk memperoleh kemenanganya, tidak ada strategi khusus yang di lakukanya, selain selalu mendekatkan diri kepada masyarakat, “Saya dan Pak Djarno, telah mengunjungi 307 desa yang ada di Kabupaten Ponorogo. Selain untuk bersilaturahmi, kita juga selalu membuka diri untuk menampung keluhan masyarakat. Mudah-mudahan masyarakat Ponorogo, kompak mendukung pemerintahan Ipong-Djarno. Sehingga saya bisa melaksanakan program-program yang telah saya siapkan, untuk mensejahterakan masyarakat Ponorogo”, tukasnya. (Supriyadi - Ponorogo Pos 10 Desember 2015)                

Kamis, 03 September 2015

Visi dan Misi

IPONG DJARNO




Pengantar
Kabupaten Ponorogo terkenal dengan Kesenian Reog, Sate dan Santri. Terletak disebelah barat Provinsi Jawa Timur, Ponorogo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.
Pada tahun 1486 kawasan Ponorogo masih berupa hutan belantara, hingga kemudian Bathara Katong, seorang utusan Kerajaan Demak yang merupakan penyebar Agama Islam membuka kawasan tersebut untuk dijadikan kawasan pemukiman. Dan tanggal 11 Agustus 1496 Bathara Katong diwisuda menjadi Adipati pertama Kadipaten Ponorogo.
Dalam perjalanan sejarah, Ponorogo juga tidak dapat dilepaskan dari Kiai Hasan Bashari, seorang alim ulama pendiri dan pengasuh Pondok Tegalsari yang memiliki ribuan santri dari berbagai pelosok tanah Jawa dan menjadi tempat “penggemblengan” para tokoh bangsa seperti Paku Buana II, Raden Ronggowarsito, HOS Cokroaminoto, dan lain sebagainya.
Secara geografis, Kabupaten Ponorogo terletak pada  koordinat 111° 17’ - 111° 52’ BT dan 7° 49’ - 8° 20’ LS. Disebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pacitan dan Wonogiri, sebelah utara dengan Madiun dan Magetan,  sebelah timur dengan Tulungagung dan Trenggalek; dan sebelah selatan dengan Pacitan.
Dengan luas wilayah mencapai 1.371,78 Kilometer persegi, Ponorogo berada pada ketinggian antara 92 sampai dengan 2.563 meter diatas permukaan laut. Oleh karena itu, secara umum, Kabupaten Ponorogo dapat dibagi dalam dua sub area, yaitu dataran tinggi dan dararan rendah. Data menunjukkan ada 241 desa yang berada pada ketinggian kurang dari 500 meter diatas permukaan laut, 44 desa berada pada ketinggian 500-700 meter diatas permukaan laut dan 18 desa berada pada ketinggian lebih dari 700 meter diatas permukaan laut. Dari penggunaan lahannya, sebagian besar wilayah Ponorogo terdiri atas area hutan tegal dan sawah. Dari luasan tersebut, lahan sawah mencapai 348,67 Kilometer persegi dan tanah kering 1.023,11 Kilometer.
Secara administratif, Kabupaten Ponorogo terbagi dalam 21 Kecamatan; 279 desa; 26 Kelurahan; 974 dusun/lingkungan,  2.272 Rukun Warga (RW) dan 6.842 Rukun Tetangga (RT).  Kecamatan dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Ngrayun dengan total luas wilayah mencapai 184,76 Kilometer persegi. Sedangkan Kecamatan dengan wilayah yang terkecil adalah Kecamatan Ponorogo dengan total luas wilayah hanya 22,31 Kilometer persegi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2014, jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo mencapai 863.900 jiwa. Sebanyak 431.400 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 432.500 jiwa perempuan.  Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak ada di Kecamatan Ponorogo yang mencapai 78.583 jiwa. Jika dirasiokan dengan luas wilayahnya, Kecamatan Ponorogo merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Angkanya mencapai 3.522 jiwa/kilometer. Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling sedikit ada di Kecamatan Pudak dengan jumlah 9.159 jiwa.
Dari jumlah penduduk tersebut, sebanyak 481.685 jiwa terkategori sebagai angkatan kerja, dimana 272.654 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 209.031 jiwa berjenis kelamin perempuan. Dari jumlah angkatan kerja yang ada, sebanyak  465.871 jiwa telah bekerja dan 15.814 jiwa merupakan pengangguran terbuka. Lapangan pekerjaan yang paling banyak digeluti adalah petani dengan jumlahnya mencapai 241.507 jiwa; perdagangan, rumah makan dan hotel 81.691 jiwa;  dan sektor keuangan serta jasa 76.470 jiwa.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2013 mencapai 5,67 persen. Dibandingkan tahun sebelumnya mengalami penurunan yang cukup signifikan, dimana tahun 2012 pertumbuhan ekonomi mencapai 6,52 persen. Angka ini berbeda jauh jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2013 yang mencapai 6,55 persen. Bahkan jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang pertumbuhannya 6,21 persen, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mengalami peningkatan 0,34 persen.
Pertanian merupakan sektor penyumbang Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar di Kabupaten Ponorogo. Tahun 2013 sektor pertanian menyumbang 32,48 persen terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Luas lahan sawah tahun 2013 mencapai 34.638 Hektar. Kecamatan dengan lahan sawah terluas ada di Kecamatan Sukorejo (3.396 Hektar). Sedangkan yang terkecil ada di Kecamatan Pudak (213 Hektar).  Dari jumlah tersebut seluas 29.929 Hektar sudah beririgasi teknis.
Tanaman Padi merupakan tanaman utama para petani. Data tahun 2013 luas panen padi mencapai 70.100 Hektar dengan total produksi mencapai 4.267.999 Kwintal. Dengan kata lain rasio lahan dengan produksi mencapai 60,88 Kwintal/Hektar. Kecamatan dengan luas panen terluas ada di Kecamatan Sukorejo (7.402 Hektar), sedangkan terkecil ada di Kecamatan Pudak (448 Hektar). Begitu juga dengan total produksi padi, terbesar ada di Kecamatan Sukorejo (452.632 Kwintal), dan terendah ada Kecamatan Pudak (27.935 Kwintal).
Selain padi Kabupaten Ponorogo memiliki  tanaman perkebunan rakyat, jenis tanaman terbesar adalah Tebu dengan total produksi pada tahun 2013 mencapai 9.610,40 ton, tembakau sekitar 600 ton; Jahe 10.045,58 ton; Kunyit 4.971,58 ton dan Kelapa 4.463,43 ton.
Selain beragam potensi diatas, Kabupaten Ponorogo juga memiliki potensi wisata alam, sejarah dan religi. Antara lain : Telaga Ngebel, Air Terjun Pletuk, Hutan Kucur, Makam Bathara Katong, Makam Kiai Hasan Besari, dan lain sebagainya.
Untuk infrastruktur jalan, data menunjukkan bahwa pada tahun 2013, panjang jalan Provinsi mencapai 86,47 Kilometer dan jalan Kabupaten mencapai 916,11 Kilometer. Dari panjang jalan kabupaten, hanya 49,12 persen atau 450,01 Kilometer yang berada dalam kondisi baik; 24,16 persen atau 221,35 Kilometer berada dalam kondisi sedang; 16,64 persen atau 152,4 Kilometer berada dalam kondisi rusak ringan dan 10,08 persen atau 92,33 Kilometer berada dalam kondisi rusak berat.
Dilihat dari permukaan jalannya, sepanjang 728,09 Kilometer sudah berpermukaan aspal; 142,02 Kilometer berpermukaan kerikil; dan 46 Kilometer sisanya masih berupa tanah.

Problematika Pembangunan
Sebagai sebuah kabupaten dengan latar belakang sejarah dan potensi sumber daya yang besar Ponorogo seharusnya telah tumbuh berkembang melebihi kota-kota besar yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun fakta dilapangan menunjukkan berbagai masalah masih dihadapi oleh  masyarakat dan pemerintahan. Mulai dari tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, buruknya kondisi infrastruktur jalan dan jembatan, sulit dan mahalnya pupuk hingga korupsi, kolusi dan nepotisme di Pemerintahan Kabupaten. 
Angka kemiskinan tahun 2012 mencapai 100.425 jiwa, dengan indeks kedalaman 1,68 dan indeks keparahan mencapai 0,38. Tidak hanya itu, pemerintah kabupaten juga dianggap tidak mampu mengejar dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi Ponorogo dengan Provinsi Jawa Timur. Tahun 2013, ketika pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mengalami peningkatan, Kabupaten Ponorogo justru mengalami penurunan.
Terbatasnya lapangan kerja di Ponorogo dan tingginya angka pertumbuhan  angkatan kerja menyebabkan banyaknya tenaga kerja yang tidak terserap. Angka  pengangguran, utamanya pengangguran tertutup semakin meningkat setiap tahunnya. Untuk memperoleh pekerjaan sebagian tenaga kerja memutuskan untuk keluar daerah, keluar pulau bahkan keluar negeri.
Pembangunan infrastruktur utamanya jalan, jika dibandingan dengan data tahun 2009 dengan data tahun 2013 terlihat bahwa tidak ada pertambahan panjang jalan Kabupaten selama kurun waktu tersebut. Panjang jalan Kabupaten tetap sepanjang 916,11 Kilometer. Pertambahan jalan berpermukaan aspal pada jalan kabupaten selama 2009 hingga 2013 hanya sekitar 39 Kilometer. Dari sebelumnya 689,91 Kilometer menjadi 728,09 Kilometer. Untuk jalan berpermukaan kerikil hanya berkurang sekitar tujuh kilometer, dari 149,10 Kilometer menjadi 142,02 Kilometer dan yang berpemukaan tanah berkurang sekitar 31 Kilometer dari 77,10 Kilometer menjadi 46 Kilometer. Berdasarkan temuan diatas, wajar jika sebagian besar masyarakat mengeluhkan buruknya akses jalan antar dusun, antar desa dan antar kecamatan yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten.
Sektor pertanian sebagai penyumbang PDRB terbesarpun seakan tidak lagi menjanjikan masa depan yang cerah bagi masyarakat. Banyak petani tidak menginginkan anaknya meneruskan profesi mereka. Ada banyak permasalahan yang membelit para petani, salah satunya sulit dan mahalnya harga pupuk saat musim tanam. Sementara saat panen, harga jual turun. Akibatnya banyak petani yang mengeluh tidak mendapatkan keuntungan karena harga jual hanya cukup untuk menutup biaya produksi.
Selain itu, ditubuh pemerintahan kabupaten Ponorogo juga diterpa isu Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang melibatkan Bupati dan Wakil Bupati. Bahkan Wakil Bupati dan beberapa Pejabat Pemerintahan sudah ditahan oleh kejaksaan atas dugaan Korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengadaan alat peraga hingga Rp.8 Miliar.

Visi:
“Ponorogo Sejahtera, Bersih dan Membanggakan”
 “Ponorogo Bersih, Sejahtera dan Membanggakan ”

Misi:
1.   Mewujudkan masyarakat yang agamis, bermoral, cerdas, sehat, sejahtera dan berbudaya.
2.   Mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, akuntabel, efektif dan efisien dengan memperluas partisipasi publik dalam pembangunan.
3.   Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan mengoptimalkan sumberdaya daerah yang berpijak pada pemberdayaan masyarakat, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
4.   Mewujudkan Kabupaten Ponorogo sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di bidang perdagangan, jasa, wisata dan industri kreatif berbasis budaya di Jawa Timur.
5.   Menciptakan kesempatan kerja yang merata dan berkeadilan

Tagline:
A.   “Emoh Ngapusi, Emoh Korupsi”
Program Aksi:
1.   Penataan dan pengelolaan pemerintahan yang bersih, transparan, profesional dan akuntabel.
a.    Memberikan keteladanan kepemimpinan dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.
b.   Meningkatkan profesionalisme, etos kerja aparatur dan pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat.
c.    Memperluas partisipasi publik dalam pembangunan, dengan melibatkan masyarakat mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi kebijakan.
d.   Mewujudkan pelayanan publik prima dengan mengedepankan kepentingan masyarakat melalui konsep mobile services dan pelayanan satu pintu (One Stop Services).
e.    Program pembebasan biaya pelayanan administrasi kependudukan dasar (KTP, KK, Akte Kelahiran dan Surat Nikah).
f.     Program peningkatan kecamatan menjadi SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).
g.    Program lelang Jabatan Camat dan Kepala Dinas

2.   Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui optimalisasi potensi sumberdaya daerah berbasis pemberdayaan masyarakat, pembangunan berkelanjutan, berkeadilan, dan ramah lingkungan
a.  Program pengelolaan lahan pertanian untuk Rumah Tangga Miskin (RTM).
b.  Program swadaya pavingisasi jalan dusun dan desa, melalui pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola dari, oleh dan untuk warga desa.
c.   Program pengembangan UMKM berbasis desa dan kawasan, dengan konsep “One Village, One Product”/”Satu Desa, Satu Produk” untuk mendorong peningkatan kesejahteraan warga desa.
d.   Program revitalisasi Koperasi Wanita berbasis Desa dan Kelurahan serta pembentukan dan pengembangan koperasi simpan pinjam.
e.    Membangun kerjasama dan kesepakatan dengan dunia usaha untuk merekrut tenaga kerja lokal

3.   Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana publik dengan memperhatikan kelestarian lingkungan
a.    Program peningkatan infrastruktur jalan desa dan kecamatan yang menghubungkan lokasi-lokasi ekonomi dan pariwisata di Ponorogo.
b.   Program perbaikan infrastruktur pertanian saluran irigasi, pengerukan,  plengsengan¸pengeringan gabah (plesterisasi) dan sebagainya
c.    Program pembangunan bandar udara
d.   Program peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan
e.    Program peningkatan kualitas sarana dan prasarana kesehatan
f.     Program perluasan jaringan komunikasi publik melalui akses internet di tingkat desa

4.   Penataan dan peningkatan pelayanan pendidikan yang bermutu, merata dan berkeadilan.
a.    Program gratis Wajib Belajar 12 tahun dan bebas biaya daftar ulang
b.   Program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA)
c.    Program standarisasi pelayanan pendidikan di sekolah negeri
d.   Program beasiswa perguruan tinggi bagi siswa berprestasi dari kalangan tidak mampu minimal sebanyak 1000 mahasiswa per tahun.
e.    Program tambahan insentif bagi guru swasta, madrasah, pondok pesantren dan TPQ/TPA
f.     Program buku paket dan LKS bagi sekolah negeri dan swasta
g.    Program percepatan sertifikasi guru tanpa potongan dan pungutan
h.   Program pemberdayaan PAUD, PLS dan pendidikan informal

5.   Penataan dan peningkatan pelayanan kesehatan gratis, berkualitas dan manusiawi
a.    Program 1 Puskesmas 1 Dokter Spesialis dan minimal 2 Dokter Umum
b.   Program alokasi dana untuk revitalisasi posyandu anak, ibu dan lansia
c.    Program peningkatan sarana dan prasarana kesehatan di tingkat Puskesmas
d.   Program peningkatan kualitas tenaga medis dan non-medis

6.    Peningkatan kesejahteraan petani dengan mengembangkan bantuan permodalan, penerapan manajemen teknologi pertanian serta industrialisasi berbasis kerakyatan dan berwawasan lingkungan
a.    Program dana talangan bagi petani menjelang musim tanam dan musim panen
b.   Program revitalisasi kelompok tani dan petugas penyuluh lapangan
c.    Program pengembangan dan pemasyarakatan pupuk organik
d.   Program pembangunan pusat-pusat industri dan perdagangan pertanian
e.    Program pengawasan dan penyederhanaan distribusi pupuk bersubsidi kepada petani, Poktan dan Gapoktan.
f.     Program penyediaan kredit usaha pertanian

7.    Pemberdayaan pemerintahan dan masyarakat desa, guna percepatan dan pemerataan pembangunan.
a.    Program pengembangan otonomi desa melalui optimalisasi Undang-Undang Desa, khususnya untuk peningkatan partisipasi, pelaksanaan, pengawasan dan pelestarian pembangunan dari/oleh/untuk masyarakat desa
b.   Program peningkatan insentif bagi perangkat desa
c.    Program pembentukan/revitalisasi BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) sebagai lembaga keuangan mikro masyarakat desa

8.   Peningkatan pengamalan ajaran agama dalam rangka kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai wujud peningkatan akhlak, keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
a.    Peningkatan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan meningkatkan sarana dan prasarana ibadah.
b.   Peningkatan kerukunan antar umat beragama
c.    Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang dilandasi oleh nilai-nilai agama
d.   Bantuan operasional untuk sarana dan prasarana ibadah, seperti: Masjid, Musholla, Gereja, Pura, Klenteng dan sebagainya.

9.   Peningkatan dan pemberdayaan perempuan, pemuda, olah raga, seni dan budaya.
  1. Program pemberdayaan perempuan, khususnya PKK, Muslimat, Fatayat, Aisyiah, Nasyiatul Aisyiah dan sebagainya
  2. Program pemberdayaan organisasi kepemudaan, olah raga dan kesenian
  3. Program bantuan kepemudaan, olah raga dan kesenian, khususnya bagi pelajar, santri dan organisasi kepemudaan, seperti: Remaja Masjid, Ormas Kepemudaan, Anshor, Pemuda Muhammadiyah, Karang Taruna, Pramuka dan sebagainya