Senin, 31 Agustus 2015
Kamis, 27 Agustus 2015
Rabu, 19 Agustus 2015
DJARNO : SAYA HARUS SABAR HADAPI FITNAH
RUPANYA dia kaya dengan karakter yang
umumnya disukai banyak orang. Rendah hati, sabar, supel, bersahabat, murah
senyum, kebapakan, santun, suka mengalah dalam pergaulan. Matang dalam menata
emosi, dan piawai dalam menjaga irama tutur-kata yang bisa memicu
ketersinggungan. Luas, wawasannya terhadap manajemen pemerintahan daerah. Nada
bicaranya jauh dari kesan meledak-ledak. Berpenampilan sederhana, menguatkan
pancaran pribadi yang matang, teliti dan jauh dari sikap sombong. Itulah
sederet kesan yang muncul di benak orang setelah berbicara cukup waktu dengan
Djarno.
Nama lengkap di kartu identitasnya
Drs. H. Soedjarno, MM. Pria kelahiran Kecamatan Slahung ini hampir 40 tahun
mengabdi menjadi pegawai negeri di Pemkab Ponorogo. Jejak kepemimpinannya yang
baik dapat diendus dari kepemimpinan Bupati Markoem Singodimedjo. Di sebagian
kalangan PNS, sosok Djarno disepadankan “ahli anggaran” di masa Markoem. Bahkan
ada yang menyebut Djarno sebagai salah satu pilar kuat yang mendorong
kepemimpinan Markoem dikenang sukses di Ponorogo. Tapi jangan berharap Djarno
mau meladeni pujian kepada peran pentingnya di era Markoem. Ia buru-buru
mengalihkan fokus pembicaraan ke topik lain tentang julukan “ahli anggaran”
semasa Bupati Markoem. Sedikit tanggapan yang disampaikan Djarno kurang lebih
begini,” Sudah sewajarnya setiap bawahan menjalankan tugasnya sebaik mungkin
terhadap perintah atasan.”
Potret keseharian Djarno seperti
itulah sesungguhnya sekaligus menjadikannya bernilai positif di mata orang
lain. Sejatinya berkepribadian kuat, tapi lebih memilih merendah. Mengingatkan
orang pada makna filosofi tanaman padi dalam peribahasa: makin berisi, makin
merunduk. Masuk akal saja jika kemudian Ipong Muchlissoni memilihnya menjadi
pasangan Wakil Bupati dalam menghadapi Pilkada Ponorogo 2015. Meskipun Djarno
merasa kurang begitu paham mengapa Ipong memilihnya, kecuali pengalaman
panjangnya di pemerintahan.
Djarno agak lama menentukan sikap
untuk menerima “pinangan” Ipong . Bukan apa-apa. “Kalau tidak senang terhadap
ajakan Mas Ipong, munafik saya. Masalahnya, saya harus mengukur diri saya
sendiri yang serba terbatas untuk urusan politik praktis. Kurang begitu
berpengalaman di bidang politik, tidakkah saya justru akan membebani dalam
proses pemenangan Mas Ipong. Di situ saya harus realistis,” Djarno mengenang
proses pencalonannya bersama Ipong.
Di sisi lain, Djarno menjadi sering
terbayang dengan percaturan politik yang dipahaminya sarat dengan
gonjang-ganjing. “Begitu saya menyatakan bersedia menjadi pasangan Mas Ipong,
konsekuensinya saya harus siap mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan
adamya trik-trik tidak sehat dari pihak yang tidak suka. Termasuk harus sabar
dalam menghadapi kemungkinan fitnah. Setelah pihak keluarga saya beritahu
kemungkinan datangnya risiko buruk seperti itu mereka siap, baru saya menyatakan
bersedia kepada Mas Ipong,” tutur Djarno.
Dugaan Djarno tak terlalu jauh
meleset. Hampir bersamaan dengan waktu dirinya dan Ipong mendaftarkan
pencalonan ke kantor KPU beberapa hari lalu, gosip miring santer berseliweran
ke tengah masyarakat. Di antara isu yang beredar, isinya menyebut-nyebut Djarno
tidak akan lolos menjadi Calon Wakil Bupati dengan diberi alasan karena tak
bisa memenuhi syarat lantaran punya utang di bank daera. Ada lagi yang secara
serampangan dikabarkan menjadi tersangka kasus korupsi. Namanya saja gosip,
tentu informasi yang menyebar tidak utuh. Sesungguhnya menyesatkan.
Pada dasarnya Djarno tidak terlalu
kaget dengan gosip macam itu. Tapi karena belakangan banyak orang yang
bertanya, ke media ini dia bersedia menyampaikan klarifikasi alias penjelasan
atas duduk perkara sesungguhnya. Menurut Djarno, pada saat memimpin instansi
keuangan Pemkab Ponorogo, betul dia diperiksa polisi terkait dengan dugaan
penyelewengan pengadaan seragam Hansip di instansi lain. Pimpinan instansi yang
mengurus soal Hansip itu dinyatakan bersalah menurut hukum, dan kini yang
bersangkutan telah selesai menjalani hukuman. Pada 2006, status Djarno
dinyatakan poliisi tidak terlibat dalam penyelewengan pengadaan seragam Hansip
itu. Sebagai fakta hukum terhadap Djarno yang bebas dari kasus itu, Polres
Ponorogo menerbitkan surat penghentian penyidikan terhadapnya. “Surat
penghentian penyidikan dari pihak berwajib itu sudah saya terima pada 2006.
Jadi seperti itu faktanya, silakan masyarakat menilai,” ujar Djarno dengan
intonasi sangat jelas.
Soal isu utang di bank pasar yang sebagian
sahamnya milik daerah, lebih sumir lagi. Seperti halnya praktik orang kredit di
bank, Djarno betul pernah punya utang dan kena denda karena telat mencicil
angsuran. Itu pun ada yang “menggorengnya” seakan-akan Djarno korupsi, dan
karena itu dianggap tak akan lolos menjadi Calon Wabup. Padahal, orang tidak
bisa mencalonkan diri dalam Pilkada bila memiliki utang yang bersifat merugikan
negara. Misalnya tidak membayar kewajiban pajak, atau kewajiban lain yang
diputuskan pengadilan karena dihukum denda dan lain sebagainya. Sebagai
perbandingan, kalau soal utang bank, yang berlaku hukum perbankan, misalnya
kalau nggak bisa melunasi jaminan disita. Djarno mengakui betul punya utang di
bank dan karena lambat mencicil dari sisa utang senilai Rp 70 juta terkena
denda. Tapi itu sesungguhnya masalah perdata, terpisah dengan ketentuan hukum
Pilkada. “Tapi karena isunya macam-macam, karena saya masuk wilayah politik,
akhirnya segera saya selesaikan. Saya bayar disaksikan pihak Kejaksaan.
Mestinya isu itu juga selesai,” katanya.
Kendati demikian, Djarno tidak
terlalu mempersoalkan para pembuat isu. Tidak juga terbesit keinginan untuk
menggugat. Toh sebelumnya sudah membayangkan bila dia masuk ke panggung
politik, kemungkinan akan menjadi bulan-bulanan tukang gosip. “Tapi akhirnya
saya ambil hikmahnya saja, kalau pasangan Ipong-Djarno tidak punya potensi
keunggulan, mungkin nggak ada orang yang mau mengisukan. Itu sekaligus
memotivasi saya untuk terus tahan terhadap semua upaya menyudutkan kami. Dan
kemungkinan makin hari isu macam-macam seperti itu akan terus berdatangan.
Karenanya saya mengimbau, khusus kepada masyarakat pendukung saya agar teguh,
tak mudah terpengaruh isu yang belum jelas kebenarannya,” kata Djarno sambil
tersenyum. (supriyadi - Ponorogo Pos)
IPONG BUKA RAHASIA MENGGANDENG DJARNO
Pasangannya Ternyata “Ahli Anggaran “
Bupati Markoem
PONOROGO—Rahasia salah satu Calon
Bupati Ponorogo H. Ipong Muchlissoni
memilih Drs. H. Soedjarno MM menjadi pasangan Wakilnya, akhirnya
tersibak jua. Ipong menggandeng birokrat kawakan yang akrab disapa Djarno itu,
ternyata menyimpan tekad besar untuk memperkuat kepemimpinan, bila kelak dipercaya
rakyat menahkodai pemerintahan.
Rahasia itu terbongkar dari isi
pidato Ipong di hadapan ribuan warga Desa Blembem dan Pulosari, Kecamatan
Jambon, serta ribuan warga Wilangan,
Kecamatan Sambit, Selasa (18/8). Di ketiga desa itu Ipong datang
menghadiri undangan warga masyarakat yang memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan
RI ke-70. Saat diberi kesempatan menyampaikan sambutan, Ipong blak-blakan
menyampaikan alasan mengapa dirinya kepincut sosok Djarno.
Ipong menuturkan, sebelum menentukan
calon Wakil Bupati yang mendampinginya, dirinya
sudah banyak menerima masukan nama tokoh dari berbagai pihak. Setiap
kelompok masyarakat yang mengusulkan kandidat Wakil Bupati kepadanya, semuanya
dilandasi niat baik. Tokoh-tokoh yang diusulkan pun semuanya juga bereputasi
baik. “Bahwa saya kemudian memilih dan memutuskan Pak Djarno sebagai pasangan
Calon Wakil Bupati, saya menggunakan analisa kebutuhan kepemimpinan yang bisa
memperkuat sistem pengendalian manajemen pemerintahan, bila nanti saya terpilih
menjadi Bupati,” tutur Ipong.
Yang sedikit beda dengan kelompok
yang mengusulkan Calon Wabup dengan dirinya, terletak pada sisi pendekatan yang
dipakai. “Kelompok pengusul umumnya mengggunakan pendekatan yang
menitikberatkan pada aspek bagaimana agar menang dalam kompetisi. Sementara
pendekatan saya adalah kebutuhan kepemimpinan macam apa, bila kelak dipercaya
rakyat memimpin Ponorogo. Pengusul umumnya mengajukan nama-nama yang populer,
tapi saya harus menitikberatkan pada fungsi penguatan untuk membangun tata
kelola pemerintahan yang baik dan amanah. Tentu dengan mempertimbangkan
plus-minus yang ada pada diri saya,” ujar Calon Bupati yang makin hari makin
moncer pamornya itu.
Ipong mengaku lantas mempelajari
sejarah perkembangan kepemimpinan pemerintahan Ponorogo sampai dengan periode
terakhir. Dia menyimpulkan, terlepas dari kekurangannya, kepemimpinan zaman
Bupati Markoem Singodimedjo termasuk berhasil dalam membangun Ponorogo. Dari
hasil pembedahan terhadap kinerja pemerintahan periode Markoem, dicarilah latar
belakang dan figur Markoem, serta faktor penggerak lain yang mempengaruhi.
Dalam catatan Ipong, Markoem berlatarbelakang pemerintahan yang panjang, dan
ketika bertugas di Ponorogo ditopang manajemen perencanaan, pengelolaan
anggaran dan keuangan yang bagus. Relatif
tidak ada rentetan kasus korupsi di zaman Markoem. “Setelah mencari tahu
ke sana ke mari terhadap siapa sosok yang dipercaya menjalankan fungsi
pengelolaan keuangan dan anggaran yang baik pada zaman Pak Markoem, ternyata fakta akhirnya merujuk pada nama
yang kurang populer di kancah politik. Sosok itu Pak Djarno. Beliau saat itu menjabat
Kepala Bagian Keuangan, dan karirnya di Pemkab Ponorogo lebih banyak memimpin
instansi atau Dinas yang terkait dengan pengelolaan keuangan, anggaran dan aset
Pemda. Semasa Bupati Markoem, Pak Djarno dijuluki ahli anggaran. Orang boleh
saja meragukan Pak Djarno, tapi rasanya siapa pun bisa membuktikan peranan
penting beliau dalam manajemen Bupati Markoem,” kata Ipong.
Saat Ipong mengupas sosok
pasangannya, massa pengunjung tampak
takzim menyimak. Sebagian massa seperti koor serempak menimpali ungkapan
“betul”, tiap kali Ipong menyebut nama Markoem. Sebagian lagi
menangangguk-angguk dan mengacungkan jempol tangan ke arah Ipong, setelah
dijelaskan sosok Djarno orang yang berpengalaman matang dan paham seluk-beluk
pembangunan dan pemerintahan di Ponorogo. Pemandangan lain yang mencolok dari tiap kedatangan dan kepulangannya di semua
tempat acara, Ipong dielu-elukan massa dengan berebut salaman. Terutama kaum
ibu. Ipong yang malam itu kebetulan didampingi Djarno, meladeni dengan sabar
untuk menyalami hampir tiap orang. Senyumnya terlihat lepas mengembang,
menampakkan rona ceria. Sebelum memasuki mobil, dari tubuhnya yang jangkung
Ipong masih menyempatkan diri melambai-lambaikan tangan ke arah massa.
(supriyadi - Ponorogo Pos)
IPONG IKUT UPACARA “BOSO JOWO”
Dielu-elukan Ratusan Pedagang Pasar
Legi
PONOROGO—Ratusan pedagang di Pasar
Legi punya tradisi unik setiap musim perayaan HUT Kemerdekaan RI. Mereka
menyelenggarakan upacara peringatan pada 17 Agustus silam, dengan cara berbeda
dari umumnya. Semua rangkaian tata cara upacara menggunakan Bahasa Jawa (boso
Jowo). Kehadiran pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Ipong
Muchlissoni-Soedjarno, ternyata menyedot perhatian ribuan pedagang dan
penonton. Sebubar upacara, mereka merubung Ipong dan rebutan berjabat tangan.
Ipong, Djarno dan rombongan lantas membaur dengan massa duduk di tikar sambil
menyantap nasi tumpeng.
Peserta upacara sebanyak 700 orang,
sebagian besar mengenakan pakaian tradisional reyog. Saat mereka berupacara,
ratusan kelompok masyarakat lain menyaksikan. Mulai dari tukang becak, tukang
sayur, bahkan warga rumahan yang secara khusus datang bersama keluarga mencari
hiburan. Di antara penonton ada yang terkekeh-kekeh, melihat dan mendengar
tradisi yang lucu dalam upacara. Misalnya, saat komandan upacara menyiapkan
pasukan, dengan bahasa begini,” Pasukan podho siogo…..” Atau saat Inspektur
upacara menimpali,”….Ora ndlomok….kabeh pasukan wis siogo…”
Yang bertindak sebagai Inspektur
upacara adalah Riyanto, Ketua Pegayuban Pedagang Pasar Legi Selatan (PPLS).
Prosesi berlanjut hingga ke pasca upacara. Setelah upacara, ditandai pemotongan
tumpeng, dan sebagian secara khusus diberikan kepada Ipong, Djarno dan tamu
kehormatan lainnya. Mulai saat itulah massa tampak antusias mengelu-elukan
Ipong. Lantas terjadi dialog antara Ipong dengan para pedagang pasar. Pada
intinya, pedagang mengeluhkan hasil penjualan mereka semakin anjlok. Ipong
menyatakan, soal Pasar Legi kidul ia tahu betul sejak kecil, dan merupakan
pasar legendaris. “Kalau sekarang ada masalah, saya mungkin baru bisa berbuat
maksimal setelah memiliki kekuasaan sebagai Bupati. Kalau saya terpilih, nanti
manajemen pengelolaannya jelas akan saya perbaiki. Baru itu saya bisa
menanggapi, prinsipnya saya akan memperhatikan perbaikan atas kekuarangan
manajemen Pasar Legi, itu kalau saya terpilih,” kata Ipong disambut tepuk riuh.
Paguyuban pedagang sengaja mengundang
ke acara itu, karena mereka yakin sosok Ipong sebagai pengusaha mampu membaca
secara tajam persoalan pedagang. Di sisi lain, mereka mendapat informasi, bahwa
meskipun bukan menggunakan dana pemerintah, Ipong berhasil membangun pasar
modern di Kecamatan Palaran, Samarinda. “Kalau dengan kekuatan dana pribadi
sebagai pengusaha saja sudah bisa menjawab kebutuhan pedagang tradisional di
Samarinda, kalau Pak Ipong jadi bupati di tanah leluhurnya, mestinya gampang
mengatasi masalah Pasar Legi,” kata seorang pedagang perempuan, Sundari. Itu
salah satu alasan mereka menghadirkan Ipong pada upacara khusus. (Supriyadi - Ponorogo Pos)
Selasa, 04 Agustus 2015
MEMAHAMI PROGRAM KHUSUS PERCEPATAN PERBAIKAN JALAN DESA RP 300 JUTA PER DESA PER TAHUN
Apa maksud program
percepatan perbaikan/pembangunan jalan
desa sebesar Rp 300 juta per desa per tahun?
Jika pasangan Ipong-Djarno pada coblosan tanggal 9 Desember
tahun ini terpilih, akan melaksanakan suatu program untuk mempercepat perbaikan
atas jalan-jalan yang rusak di semua desa. Bisa pula membangun jalan baru di
suatu desa yang memang sangat mendesak untuk diwujudkan. Caranya dengan
menggunakan kewenangan Bupati dalam proses perumusan Anggaran Pendapatan
Belanja Daerah (APBD). Dari APBD dialokasikan anggaran dana sebesar Rp 300 juta
tiap desa tiap tahun. Anggaran itu
bersifat khusus, maksudnya tidak akan mengurangi jatah anggaran-anggaran lain untuk
desa yang sudah ada dalam ketentuan kewajiban pemerintah kepada desa. Jika
dikalikan jumlah desa/kelurahan se-Kabupaten Ponorogo sekitar 300, diperlukan
secara keseluruhan sebesar Rp 90 milyar. Artinya, keperluan total dana untuk program
ini kurang dari Rp 100 milyar tiap tahun.
Apa tujuan program ini,
dan apa manfaatnya buat masyarakat?
Dengan tersedianya anggaran hampir Rp 100 milyar melalui
program ini, tiap desa sudah berkesempatan memperbaiki jalan yang rusak. Jika dilakukan
serentak dan terus-menerus tiap tahun, maka upaya perbaikan jalan rusak di
semua desa akan semakin cepat. Masyarakat akan mendapatkan manfaat secara
sosial dan ekonomi. Transportasi dari dan ke semua desa jadi lebih lancar.Karenanya
biaya transportasi yang harus dikeluarkan tiap orang makin murah.
Dari mana asal dananya
(Rp 90 milyar)?
Dari pendapatan APBD.
Sebagai contoh, pada tahun 2015 ini pendapatan APBD Pemerintah
Kab.Ponorogo sebelum perubahan mencapai Rp 1,8 Triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp 1,3 triliun
dipakai untuk Belanja Tidak Langsung.
Misalnya, untuk membayar gaji 12.600 PNS dan pejabat lainnya sebesar Rp
1,096 triliun, sisanya untuk bantuan anggaran dana desa (ADD), bantuan BPJS dan
sebagainya. Setelah dipotong beberapa pembiayaan tadi, masih ada sekitar Rp 582,7
milyar yang dipakai untuk Belanja Langsung.
Sebagian dana Belanja Langsung APBD 2015 diplot untuk Dinas Pekerjaan
Umum (PU) sekitar Rp 196,7 milyar. Data itu menunjukkan, sesungguhnya pada 2015
ini Dinas PU Ponorogo telah diberi porsi dana hampir Rp 200 milyar. Antara lain untuk membangun jalan. Soal
pembangunan jalan dimana, dan mengapa masih banyak jalan di desa-desa belum
diperbaiki pada 2015 ini, yang tahu jawabannya pemerintah sekarang. Kenyataan APBD 2015 itu dasar pasangan
Ipong-Djarno merumuskan program ini bisa jalan karena sesungguhnya dana APBD
tersedia. Tinggal cara mengaturnya saja. Bahkan jika digabung dengan skema APBD
Perubahan 2015 jadi lebih besar,
keyakinan itu makin kuat. Hanya dari pos PU, tanpa mengganggu pos lain.
Kapan program ini
dimulai?
Sejak berwenang menentukan APBD. Maksudnya begini. APBD yang
berlaku tahun depan, umumnya diproses dan disahkan pada tahun ini (setahun
sebelumnya). Kita andaikan menang, pasangan ini kemungkinan baru bisa dilantik
pada awal tahun 2016. Artinya, saat dilantik, kemungkinan besar APBD 2016 sudah
disahkan. Kalau itu yang terjadi, maka Ipong-Djarno baru berwenang menentukan
proses APBD pada anggaran 2017, yang akan diproses sejak akhir 2016. Berarti
kemungkinan paling cepat program ini dimulai bergulir pada 2017. Tapi bila
setelah dilantik masih sempat dan sudah berwenang memproses APBD 2016, ya
dimulai 2016.
Bagaimana kalau program
ini tak dilaksanakan?
Pada 24 Mei 2015 di panggung acara jalan sehat di Alun alun Ponorogo,
Ipong meneken perjanjian tertulis (kontrak politik) dengan tokoh yang mewakili
masyarakat di hadapan notaris. Salah satu isi kontrak itu menyatakan, bila
paling lambat 2 (dua) tahun setelah berwenang menentukan APBD belum bisa
memulai program ini, Ipong akan mundur sebagai Bupati. Berpegang pada kontrak
politik itu, maka Ipong harus memulai program ini paling lambat tahun
2019. Bila sampai 2019 program ini belum
dimulai, Ipong lengser. Dengan ikatan politik seperti itu, Ipong mau tak mau
harus menunaikan program ini bila terpilih menjadi Bupati Ponorogo. Karena itu, jika di lingkungan desa Anda
belum ikut kontrak politik, dianjurkan segera menyusul.
KEUNGGULAN DUET
IPONG-DJARNO
CALON Bupati (Cabup) Ponorogo H. Ipong Muchlissoni berpasangan
dengan Drs. H. Soedjarno, sebagai pasangan Calon Wakil Bupati (Cawabup). Calon
wakil Ipong itu birokrat kawakan. Djarno panggilan akrabnya. Duet Ipong-Djarno
diusung Koalisi Perubahan, gabungan partai politik yang terdiri dari Partai
Gerindra, Partai NasDem Partai Amanat Nasional (PAN) dan PPP. Kedua sosok itu
saling mengisi, melengkapi dan menutup terhadap kelemahan dan kelebihannya
masing-masing. Penggabungan dua sosok yang memiliki latar-belakang profesi,
pengalaman serta karakter yang berbeda, sengaja dibangun untuk membentuk
kombinasi kepemimpinan yang efektif dalam memimpin pemerintahan Ponorogo ke
depan.
Sesungguhnya sosok Ipong berlatarbelakang lumayan komplit. Aktivis
kampus, ormas Islam (Pengurus Wilayah NU Kaltim), organisasi kepemudaan (Ikatan Keluarga
Mahasiswa Jawa Timur-IKMJT) di Samarinda, politisi (PKB dan Gerindra), pernah
pula jadi pejabat pemerintahan daerah (anggota DPRD Provinsi Kaltim dua
periode). Sebagai pengusaha, bidang usaha yang diterjuni cukup beragam. Bos
sejumlah perusahaan perumahan dan properti, pasar modern, rental alat-alat
berat, advertising, pengembang apartemen dan lapangan golf, percetakan dan
penerbitan, perkebunan sawit hingga pabrik pengolah sawit, dan lain-lain.
Usahanya tersebar di sejumlah pulau. Mulai dari Kaltim, Sulawesi, Jatim, Yogyakarta
hingga Jakarta. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga tokoh-tokoh NU di Kauman,
Pasar Pon, Ponorogo. Ipong merupakan cucu Usman Subandi, tokoh penting NU
sekaligus orang pertama di Bumi Reog yang menjabat Ketua Gerakan Pemuda Anshor,
salah satu organisasi sayap perjuangan NU. Selama memimpin PKB Kaltim, ia
dikenal sebagai salah satu orang dekat Gus Dur.
Belakangan Prabowo merekrut Ipong untuk memimpin Gerindra Kaltim, sampai
sekarang.
Sedangkan Djarno memiliki pengalaman panjang di pemerintahan
Kabupaten Ponorogo. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk mengabdi
sebagai PNS. Ia sosok penting pada zaman Bupati kondang, Markum Singodimedjo.
Magister manajemen kelahiran Kecamatan Slahung
itu dipercaya Markum menjadi Kepala Bagian Keuangan. Gaya hidupnya yang
sederhana, karakternya yang sabar, kebapakan, teliti, hati-hati tapi tegas, dianggap cocok oleh
Markum untuk mengendalikan manajemen keuangan dan anggaran Pemkab Ponorogo.
Saat itu, pria kalem dan murah senyum itu dapat julukan “ahli anggaran”. Karir bapak tiga anak itu terus beranjak.
Sempat menjadi Kepala Badan dan Kepala Dinas yang terkait dengan Pengelolaan Keuangan
dan Pendapatan, Kadis Kependudukan dan Catatan Sipil, Asisten Keuangan dan Administrasi, hingga Staf
Ahli Bupati. Praktis Djarno kenyang dan matang dalam seluk-beluk pemerintahan
daerah.
Karakter dan pengalaman Djarno tepat untuk menopang ciri
kepemimpinan Ipong sebagai pengusaha yang cenderung inovatif, suka terobosan
dan terampil lobi ke berbagai kalangan, sebagai salah satu pendekatan dalam
memecahkan masalah. Kombinasi kedua karakter dalam kepemimpinan pemerintahan menjadi lebih
komplit dan unggul. Ibarat mobil, Ipong jadi gas, Djarno pakem sebagai rem.
Penggabungan keduanya berangkat dari pengalaman latarbelakang kepemimpinan pemerintahan
Ponorogo terakhir, yang menyembulkan berbagai kasus korupsi, dan nyaringnya keluhan jalan rusak di semua
desa. Pasangan ini berpotensi membawa manajemen pemerintahan yang kreatif
dan kuat mengendalikan kebijakan dari
sisi tata-kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Tekadnya: emoh ngapusi,
emoh korupsi!
Langganan:
Postingan (Atom)

