Dielu-elukan Ratusan Pedagang Pasar
Legi
PONOROGO—Ratusan pedagang di Pasar
Legi punya tradisi unik setiap musim perayaan HUT Kemerdekaan RI. Mereka
menyelenggarakan upacara peringatan pada 17 Agustus silam, dengan cara berbeda
dari umumnya. Semua rangkaian tata cara upacara menggunakan Bahasa Jawa (boso
Jowo). Kehadiran pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Ipong
Muchlissoni-Soedjarno, ternyata menyedot perhatian ribuan pedagang dan
penonton. Sebubar upacara, mereka merubung Ipong dan rebutan berjabat tangan.
Ipong, Djarno dan rombongan lantas membaur dengan massa duduk di tikar sambil
menyantap nasi tumpeng.
Peserta upacara sebanyak 700 orang,
sebagian besar mengenakan pakaian tradisional reyog. Saat mereka berupacara,
ratusan kelompok masyarakat lain menyaksikan. Mulai dari tukang becak, tukang
sayur, bahkan warga rumahan yang secara khusus datang bersama keluarga mencari
hiburan. Di antara penonton ada yang terkekeh-kekeh, melihat dan mendengar
tradisi yang lucu dalam upacara. Misalnya, saat komandan upacara menyiapkan
pasukan, dengan bahasa begini,” Pasukan podho siogo…..” Atau saat Inspektur
upacara menimpali,”….Ora ndlomok….kabeh pasukan wis siogo…”
Yang bertindak sebagai Inspektur
upacara adalah Riyanto, Ketua Pegayuban Pedagang Pasar Legi Selatan (PPLS).
Prosesi berlanjut hingga ke pasca upacara. Setelah upacara, ditandai pemotongan
tumpeng, dan sebagian secara khusus diberikan kepada Ipong, Djarno dan tamu
kehormatan lainnya. Mulai saat itulah massa tampak antusias mengelu-elukan
Ipong. Lantas terjadi dialog antara Ipong dengan para pedagang pasar. Pada
intinya, pedagang mengeluhkan hasil penjualan mereka semakin anjlok. Ipong
menyatakan, soal Pasar Legi kidul ia tahu betul sejak kecil, dan merupakan
pasar legendaris. “Kalau sekarang ada masalah, saya mungkin baru bisa berbuat
maksimal setelah memiliki kekuasaan sebagai Bupati. Kalau saya terpilih, nanti
manajemen pengelolaannya jelas akan saya perbaiki. Baru itu saya bisa
menanggapi, prinsipnya saya akan memperhatikan perbaikan atas kekuarangan
manajemen Pasar Legi, itu kalau saya terpilih,” kata Ipong disambut tepuk riuh.
Paguyuban pedagang sengaja mengundang
ke acara itu, karena mereka yakin sosok Ipong sebagai pengusaha mampu membaca
secara tajam persoalan pedagang. Di sisi lain, mereka mendapat informasi, bahwa
meskipun bukan menggunakan dana pemerintah, Ipong berhasil membangun pasar
modern di Kecamatan Palaran, Samarinda. “Kalau dengan kekuatan dana pribadi
sebagai pengusaha saja sudah bisa menjawab kebutuhan pedagang tradisional di
Samarinda, kalau Pak Ipong jadi bupati di tanah leluhurnya, mestinya gampang
mengatasi masalah Pasar Legi,” kata seorang pedagang perempuan, Sundari. Itu
salah satu alasan mereka menghadirkan Ipong pada upacara khusus. (Supriyadi - Ponorogo Pos)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar