Rabu, 19 Agustus 2015

DJARNO : SAYA HARUS SABAR HADAPI FITNAH


RUPANYA dia kaya dengan karakter yang umumnya disukai banyak orang. Rendah hati, sabar, supel, bersahabat, murah senyum, kebapakan, santun, suka mengalah dalam pergaulan. Matang dalam menata emosi, dan piawai dalam menjaga irama tutur-kata yang bisa memicu ketersinggungan. Luas, wawasannya terhadap manajemen pemerintahan daerah. Nada bicaranya jauh dari kesan meledak-ledak. Berpenampilan sederhana, menguatkan pancaran pribadi yang matang, teliti dan jauh dari sikap sombong. Itulah sederet kesan yang muncul di benak orang setelah berbicara cukup waktu dengan Djarno. 

Nama lengkap di kartu identitasnya Drs. H. Soedjarno, MM. Pria kelahiran Kecamatan Slahung ini hampir 40 tahun mengabdi menjadi pegawai negeri di Pemkab Ponorogo. Jejak kepemimpinannya yang baik dapat diendus dari kepemimpinan Bupati Markoem Singodimedjo. Di sebagian kalangan PNS, sosok Djarno disepadankan “ahli anggaran” di masa Markoem. Bahkan ada yang menyebut Djarno sebagai salah satu pilar kuat yang mendorong kepemimpinan Markoem dikenang sukses di Ponorogo. Tapi jangan berharap Djarno mau meladeni pujian kepada peran pentingnya di era Markoem. Ia buru-buru mengalihkan fokus pembicaraan ke topik lain tentang julukan “ahli anggaran” semasa Bupati Markoem. Sedikit tanggapan yang disampaikan Djarno kurang lebih begini,” Sudah sewajarnya setiap bawahan menjalankan tugasnya sebaik mungkin terhadap perintah atasan.” 

Potret keseharian Djarno seperti itulah sesungguhnya sekaligus menjadikannya bernilai positif di mata orang lain. Sejatinya berkepribadian kuat, tapi lebih memilih merendah. Mengingatkan orang pada makna filosofi tanaman padi dalam peribahasa: makin berisi, makin merunduk. Masuk akal saja jika kemudian Ipong Muchlissoni memilihnya menjadi pasangan Wakil Bupati dalam menghadapi Pilkada Ponorogo 2015. Meskipun Djarno merasa kurang begitu paham mengapa Ipong memilihnya, kecuali pengalaman panjangnya di pemerintahan. 

Djarno agak lama menentukan sikap untuk menerima “pinangan” Ipong . Bukan apa-apa. “Kalau tidak senang terhadap ajakan Mas Ipong, munafik saya. Masalahnya, saya harus mengukur diri saya sendiri yang serba terbatas untuk urusan politik praktis. Kurang begitu berpengalaman di bidang politik, tidakkah saya justru akan membebani dalam proses pemenangan Mas Ipong. Di situ saya harus realistis,” Djarno mengenang proses pencalonannya bersama Ipong. 

Di sisi lain, Djarno menjadi sering terbayang dengan percaturan politik yang dipahaminya sarat dengan gonjang-ganjing. “Begitu saya menyatakan bersedia menjadi pasangan Mas Ipong, konsekuensinya saya harus siap mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan adamya trik-trik tidak sehat dari pihak yang tidak suka. Termasuk harus sabar dalam menghadapi kemungkinan fitnah. Setelah pihak keluarga saya beritahu kemungkinan datangnya risiko buruk seperti itu mereka siap, baru saya menyatakan bersedia kepada Mas Ipong,” tutur Djarno.

Dugaan Djarno tak terlalu jauh meleset. Hampir bersamaan dengan waktu dirinya dan Ipong mendaftarkan pencalonan ke kantor KPU beberapa hari lalu, gosip miring santer berseliweran ke tengah masyarakat. Di antara isu yang beredar, isinya menyebut-nyebut Djarno tidak akan lolos menjadi Calon Wakil Bupati dengan diberi alasan karena tak bisa memenuhi syarat lantaran punya utang di bank daera. Ada lagi yang secara serampangan dikabarkan menjadi tersangka kasus korupsi. Namanya saja gosip, tentu informasi yang menyebar tidak utuh. Sesungguhnya menyesatkan. 

Pada dasarnya Djarno tidak terlalu kaget dengan gosip macam itu. Tapi karena belakangan banyak orang yang bertanya, ke media ini dia bersedia menyampaikan klarifikasi alias penjelasan atas duduk perkara sesungguhnya. Menurut Djarno, pada saat memimpin instansi keuangan Pemkab Ponorogo, betul dia diperiksa polisi terkait dengan dugaan penyelewengan pengadaan seragam Hansip di instansi lain. Pimpinan instansi yang mengurus soal Hansip itu dinyatakan bersalah menurut hukum, dan kini yang bersangkutan telah selesai menjalani hukuman. Pada 2006, status Djarno dinyatakan poliisi tidak terlibat dalam penyelewengan pengadaan seragam Hansip itu. Sebagai fakta hukum terhadap Djarno yang bebas dari kasus itu, Polres Ponorogo menerbitkan surat penghentian penyidikan terhadapnya. “Surat penghentian penyidikan dari pihak berwajib itu sudah saya terima pada 2006. Jadi seperti itu faktanya, silakan masyarakat menilai,” ujar Djarno dengan intonasi sangat jelas.    

Soal isu utang di bank pasar yang sebagian sahamnya milik daerah, lebih sumir lagi. Seperti halnya praktik orang kredit di bank, Djarno betul pernah punya utang dan kena denda karena telat mencicil angsuran. Itu pun ada yang “menggorengnya” seakan-akan Djarno korupsi, dan karena itu dianggap tak akan lolos menjadi Calon Wabup. Padahal, orang tidak bisa mencalonkan diri dalam Pilkada bila memiliki utang yang bersifat merugikan negara. Misalnya tidak membayar kewajiban pajak, atau kewajiban lain yang diputuskan pengadilan karena dihukum denda dan lain sebagainya. Sebagai perbandingan, kalau soal utang bank, yang berlaku hukum perbankan, misalnya kalau nggak bisa melunasi jaminan disita. Djarno mengakui betul punya utang di bank dan karena lambat mencicil dari sisa utang senilai Rp 70 juta terkena denda. Tapi itu sesungguhnya masalah perdata, terpisah dengan ketentuan hukum Pilkada. “Tapi karena isunya macam-macam, karena saya masuk wilayah politik, akhirnya segera saya selesaikan. Saya bayar disaksikan pihak Kejaksaan. Mestinya isu itu juga selesai,” katanya.  

Kendati demikian, Djarno tidak terlalu mempersoalkan para pembuat isu. Tidak juga terbesit keinginan untuk menggugat. Toh sebelumnya sudah membayangkan bila dia masuk ke panggung politik, kemungkinan akan menjadi bulan-bulanan tukang gosip. “Tapi akhirnya saya ambil hikmahnya saja, kalau pasangan Ipong-Djarno tidak punya potensi keunggulan, mungkin nggak ada orang yang mau mengisukan. Itu sekaligus memotivasi saya untuk terus tahan terhadap semua upaya menyudutkan kami. Dan kemungkinan makin hari isu macam-macam seperti itu akan terus berdatangan. Karenanya saya mengimbau, khusus kepada masyarakat pendukung saya agar teguh, tak mudah terpengaruh isu yang belum jelas kebenarannya,” kata Djarno sambil tersenyum. (supriyadi - Ponorogo Pos)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar